Artikel saya tentang kegiatan para Ibu Indonesia di Canberra, salah satunya Ailsa (Australia Indonesia Languange Schools Association).
Silakan baca disini:
http://momsguideindonesia.com/finding-a-home-away-from-home.html
Wednesday, February 15, 2012
Thursday, January 12, 2012
Artikel "Taman Mini Cockington Green" - Majalah Liburan
Artikel saya yang dipublikasikan di awal tahun 2012 oleh majalah Liburan edisi Januari 2012. Baca ya! :)
Teks: De Veha
Foto: Riko Abrar
TAMAN MINI COCKINGTON GREEN
CANBERRA, AUSTRALIA
Banyak orang telah mengenal Canberra sebagai Ibu kota negara Kangguru, Australia. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa ibu kota yang penduduknya hanya berjumlah tiga ratusan ribu tersebut memiliki tempat-tempat wisata yang wajib di kunjungi. Salah satu yang menarik adalah taman Cockington Green.
Cockington Green
Dari namanya saja, taman luas yang dipenuhi pepohonan dan rumput hijau. Pasti indah sekali. Canberra memang banyak memiliki taman-taman di tengah kota yang luas. Rasanya nikmat sekali bila jalan-jalan di pagi hari atau sore, bahkan hanya sekedar duduk-duduk saja di taman. Yang menarik, Cockington Green bukanlah hanya taman yang biasa dipenuhi oleh berbagai macam jenis tanaman, tetapi lebih dari itu. Lalu apa yang membuat Cockington Green menjadi salah satu daya tarik wisata Canberra? Rahasianya adalah taman cantik ini dihiasi dengan puluhan ribu jenis tanaman dan aneka miniatur bangunan yang khusus ditata sedemikian rupa.
Sejak dibuka untuk publik pada tahun 1979, penataannya selalu berkembang secara terus menerus. Penasaran seperti apa bentuk tamannya? Ketika sampai, saya disambut oleh berbagai macam jenis bunga mawar yang tumbuh di sepanjang jalan kecil menuju pintu depan sebuah rumah lama bergaya Inggris. Sebelum memasuki area taman di belakang rumah, saya harus membeli tiket masuk terlebih dahulu. Dalam rumah tersebut juga ada toko kecil yang menjual beberapa suvenir. Setelah membayar dan keluar menuju belakang rumah, barulah saya dapat memasuki taman Cockington Green yang sebenarnya. Cockington Green terbagi menjadi dua area, yakni The Original Display Area and The International Display Area.
The Original Display Area
Saya mulai mengitari jalan kecil di wilayah taman yang pertama ini. Mata saya terbelalak karena disejukkan oleh berjuta tanaman hijau, bunga-bunga berwarna, serta miniatur bangunan yang dilengkapi aneka miniatur kendaraan dan manusia yang tertata sangat apik. Ada miniatur Baraemar Castle yang terdapat di Skotlandia, miniatur lapangan bola yang dilengkapi dengan riuh suara penonton, the famous Stonehenge dari Inggris, hingga terdapat bentuk khusus berupa hand cut Turf Maze dalam bentuk labirin.
Dalam area ini juga terdapat kolam kecil yang seolah-olah merupakan sebuah sungai atau danau yang digenangi beberapa boat. Air terjun buatan juga ada. Bahkan miniatur kereta api menghiasi taman ini sesuai dengan train time table yang ada. Saya pun juga dapat menggerakkan miniatur lainnya dengan cara hanya menekan tombol sesuai petunjuk. Tidak hanya nikmat di pandang tetapi juga fun kan?
The International Display Area
Setelah melihat-lihat The Original Display Area, saya memasuki The International Display Area. Pastilah sudah terbayang area taman seperti apa yang satu ini. Ya, ini area taman yang menjadi perwakilan dari negara-negara di dunia. Pertama kalinya area ini dibuat pada tahun 1998 yang diawali oleh beberapa dari kedutaan besar. Lebih dari 20 negara di dunia ikut berpartisipasi mensponsori pembangunan miniatur untuk mewakili negaranya masing-masing. Penataan tersebut pun berkembang sehingga tidak hanya berupa miniatur kedutaan besar saja, melainkan menonjolkan penataan multicultural dari tiap negara. Lihat saja, ada Karlstejn Castle dari Czech Republic, The Trakai Castle dari Lithuania, Chateau of Bojnice dari Slovakia, dan beberapa miniatur baru dari negara lain seperti Korea, Turki, serta Jordania yang bangunannya bernama The Treasury Petra serta masih banyak negara lainnya yang baru bergabung. Satu lagi yang tidak ketinggalan adalah ciri khas dari tanah air Indonesia, Candi Borobudur yang terpajang sebagai pembuka awal di area ini. Begitu bangganya saya melihat Candi Borobudur walau hanya berupa miniatur.
Dari kedua area taman ini, setiap miniatur terdapat papan kecil yang menceritakan sedikit mengenai miniatur yang terpajang tersebut. Jadi, dengan begitu saya akan tahu history nya. Sambil berwisata, sambil belajar juga tentunya.
Unik dan Tak Biasa
Yang juga menarik perhatian saya, adalah keberadaan beberapa tanaman berwarna merah hingga ungu tua berupa rangkaian tanaman sejenis cabe rawit yang sengaja ditanam menghadap ke atas. Setahu saya, tanaman cabe rawit pasti melengkung ke bawah. Tapi ini tidak, semuanya lurus tumbuh menghadap langit biru. Sungguh hebat orang yang menata tanaman-tanaman ini sehingga sangat menarik perhatian.
Cockington Green pun tidak hanya dihiasi oleh tanaman-tanaman tersebut, tetapi juga memiliki sesuatu yang menarik lainnya untuk dilihat. Terdapat ruangan pameran yang disebut Rose Room indoor exhibiton. Disini dapat kita lihat aneka barang-barang miniatur di mulai dari peralatan rumah tangga sampai koleksi boneka yang memakai pakaian tradisional dari negara-negara di dunia.
Bila masih belum puas untuk menikmati taman ini, kita bisa berkeliling dengan menggunakan kereta api mini yang tersedia bagi para pengunjung. Biasanya anak-anak gemar sekali menaikinya. Hanya dengan koin $2 Australia, saya dapat mengelilingi taman satu kali sambil memandangi taman cantik Cockington Green.
Setelah sedikit lelah mengelilingi taman Cockington Green, saya pun dapat istirahat sejenak dan menikmati secangkir kopi panas di Parsons Nose Garden Café baik dari dalam maupun luar café. Lebih nikmat apabila duduk diluar café, lengkap dengan pemandangan yang cantik dan udara yang sejuk saat musim semi.
Taman yang pernah mendapatkan penghargaan National Tourism Award ini, dihiasi hampir 35.000 bunga yang di tanam setiap tahunnya agar semakin terus berwarna. Dengan demikian, pengunjung seperti saya akan dimanjakan dengan beraneka ragam jenis bunga dan dedaunan yang tersebar. Pemandangan indah yang kaya akan nilai historisnya dan sangat berkesan.
Cockington Green. Taman cantik yang selalu lekat dan menyejukkan hati. Pengunjung pun tiada henti berdatangan, baik turis lokal maupun manca negara. Bahkan diantara mereka rela beberapa kali menyempatkan hanya untuk berkunjung. Taman ini memberikan keindahan yang dapat membuat betah bagi setiap pengunjungnya. Tidak heran bila taman yang beroperasi hingga empat generasi ini, dapat dikatakan sebagai a wonderful Canberra Icon. Jadi, kapan giliran Anda akan berkunjung?
Labels:
published
Book 4 - Antologi "Suka Duka Hidup di Australia"
Buku antologi yang saya tulis bareng teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) Australia.
Buku ini cocok bagi yang akan tinggal sementara (kuliah, kerja, dll) atau permanen di Australia.Tulisan saya berjudul "Suka Duka Hari Raya di Canberra"
Penulis: Nawa Aziz, De Veha, dkk.
Foto Cover: Riko Abrar.
Penerbit: Indiva Media Kreasi (indivamediakreasi.com)
Harga: Rp. 36.000 (Indonesia) / $10 (Australia-termasuk ongkir). Pemesanan wilayah Australia, hubungi flpaustralia@yahoo.com.au
"Buku ini dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi pembaca, khususnya masyarakat Indonesia yang akan berangkat maupun tiba di Australia, karena bekerja maupun menuntut ilmu" (Primo Alui J, Duta besar untuk Australia dan Vanuatu)
"Informatif! Inilah buku panduan belajar dan hidup yang lengkap bagi mahasiswa/i Indonesia yang akan dan sedang melanjutkan studi ke benua Australia, lengkap dengan kisah suka dan duka yang memperkaya jiwa" (Habiburrahman El SHirazy, penulis mega bestseller dan Sutradara)
"Travelling to a strange new country to study or work can be a disconcerting and confronting experience. When everything you took for granted is replaced by the textures of the unknown where can you go for comfort? Through the stories of others who have gone before, this helpful book provides practical knowledge and useful information in hopeful and heart warming accounts of ‘arriving and surviving’ in Australia. A ‘must read’ for Indonesians thinking of staying a while in Oz. “ (Jan Cornall, Writer-Performer-Teacher and Traveller based in Sydney, Australia)
"Mencermati kiprah anak bangsa di Australia, sungguh membuat kita adakalanya ikut larut dalam sukaduka, kisah-kasih dan kisuh misuh; bagaimana mahasiswi sebagai istri, sebagai ibu muda dan hamil, atau para lelaki pengikut istri dan seribu lakon, semuanya sangat menginspirasi. Tiada kata selain: Selamat ya dengan buku inspiratif ini!" (Pipiet Senja, penulis senior)
Sinopsis:
Letak geografisnya yang bersebelahan dengan Indonesia, keindahan alamnya, juga perbedaan budaya karena masuk negara Barat, menjadikan Australia memiliki daya tarik untuk dikunjungi warga Indonesia.
Memiliki universitas yang punya ranking cukup baik di tingkat dunia berikut fasilitas belajarnya: perpustakaan dengan koleksi baik buku cetak maupun akses elektronik, kualitas pengajar, ilmu-ilmu baru dan up-to-date serta kesempatan bertemu dan membangun jaringan dengan banyak kolega dari mancanegara, sehingga tak heran jika warga Indonesia menempati tingkat persentasi tertinggi (12%) sebagai perantau di Australia.
Dan inilah kisah-kisah orang Indonesia yang bermukim di Australia. Mulai dari student yang menuntut ilmu disana, maupun yang menetap secara permanen. Di buku ini, akan kita temukan pengalaman-pengalaman sehari-hari mereka yang membuat mata kita tiba-tiba basah karena haru, bibir menyungging senyum, juga aplaus penuh kekaguman.
Dari mulai nude food policy yang membuat kita malu, sistem pendidikan yang membuat kita kagum, pengalaman pindahan rumah dan berburu akomodasi yang ribet, saat terkena denda karena salah parkir, suasana Ramadhan dan Lebaran yang mengharukan, hingga cara mengatasi stres dengan memancing, gardening, dan camping!
Buku ini cocok bagi yang akan tinggal sementara (kuliah, kerja, dll) atau permanen di Australia.Tulisan saya berjudul "Suka Duka Hari Raya di Canberra"
Penulis: Nawa Aziz, De Veha, dkk.
Foto Cover: Riko Abrar.
Penerbit: Indiva Media Kreasi (indivamediakreasi.com)
Harga: Rp. 36.000 (Indonesia) / $10 (Australia-termasuk ongkir). Pemesanan wilayah Australia, hubungi flpaustralia@yahoo.com.au
"Buku ini dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi pembaca, khususnya masyarakat Indonesia yang akan berangkat maupun tiba di Australia, karena bekerja maupun menuntut ilmu" (Primo Alui J, Duta besar untuk Australia dan Vanuatu)
"Informatif! Inilah buku panduan belajar dan hidup yang lengkap bagi mahasiswa/i Indonesia yang akan dan sedang melanjutkan studi ke benua Australia, lengkap dengan kisah suka dan duka yang memperkaya jiwa" (Habiburrahman El SHirazy, penulis mega bestseller dan Sutradara)
"Travelling to a strange new country to study or work can be a disconcerting and confronting experience. When everything you took for granted is replaced by the textures of the unknown where can you go for comfort? Through the stories of others who have gone before, this helpful book provides practical knowledge and useful information in hopeful and heart warming accounts of ‘arriving and surviving’ in Australia. A ‘must read’ for Indonesians thinking of staying a while in Oz. “ (Jan Cornall, Writer-Performer-Teacher and Traveller based in Sydney, Australia)
"Mencermati kiprah anak bangsa di Australia, sungguh membuat kita adakalanya ikut larut dalam sukaduka, kisah-kasih dan kisuh misuh; bagaimana mahasiswi sebagai istri, sebagai ibu muda dan hamil, atau para lelaki pengikut istri dan seribu lakon, semuanya sangat menginspirasi. Tiada kata selain: Selamat ya dengan buku inspiratif ini!" (Pipiet Senja, penulis senior)
Sinopsis:
Letak geografisnya yang bersebelahan dengan Indonesia, keindahan alamnya, juga perbedaan budaya karena masuk negara Barat, menjadikan Australia memiliki daya tarik untuk dikunjungi warga Indonesia.
Memiliki universitas yang punya ranking cukup baik di tingkat dunia berikut fasilitas belajarnya: perpustakaan dengan koleksi baik buku cetak maupun akses elektronik, kualitas pengajar, ilmu-ilmu baru dan up-to-date serta kesempatan bertemu dan membangun jaringan dengan banyak kolega dari mancanegara, sehingga tak heran jika warga Indonesia menempati tingkat persentasi tertinggi (12%) sebagai perantau di Australia.
Dan inilah kisah-kisah orang Indonesia yang bermukim di Australia. Mulai dari student yang menuntut ilmu disana, maupun yang menetap secara permanen. Di buku ini, akan kita temukan pengalaman-pengalaman sehari-hari mereka yang membuat mata kita tiba-tiba basah karena haru, bibir menyungging senyum, juga aplaus penuh kekaguman.
Dari mulai nude food policy yang membuat kita malu, sistem pendidikan yang membuat kita kagum, pengalaman pindahan rumah dan berburu akomodasi yang ribet, saat terkena denda karena salah parkir, suasana Ramadhan dan Lebaran yang mengharukan, hingga cara mengatasi stres dengan memancing, gardening, dan camping!
Labels:
published
Wednesday, January 4, 2012
Artikel "Summer Breeze at Broulee North Beach"
Halo!
Selamat Tahun Baru 2012!
Sebelum tahun baru, saya jalan-jalan bersama keluarga ke pantai Broulee North yang letaknya di daerah Batesman Bay, NSW. Cerita perjalanan saya ini, dipublikasikan di website khusus parenting. Namanya momsguideindonesia.com
Yuk, baca cerita saya mengajak Renzo main di Broulee North Beach!
Atau bisa diunduh di:
http://momsguideindonesia.com/summer-breeze-at-broulee-north-beach.html
Summer Breeze at Broulee North Beach
Summer holiday, waktu liburan terpanjang yang selalu ditunggu-tunggu terutama bagi anak-anak. Untuk mengawali liburan kali ini, saya dan suami mengajak Renzo (4 tahun) ke pantai terdekat dari Canberra.Minggu lalu, kami berangkat bersama dengan rombongan teman-teman yang membawa serta keluarga. Kebetulan, hari itu adalah hari Natal sehingga jalanan sangat sepi dan di pantai pun tak ramai.
Saya dan keluarga berangkat dari Canberra pukul 6.30 pagi. Kami berkumpul di Blackall Park terlebih dahulu dan kemudian 6 mobil konvoi beranjak menuju Batesman Bay. Mobil kami berada paling depan sebagai pemandu jalan.
Perjalanan dari Canberra ke Batesman Bay membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Pemandangan kiri dan kanan selama perjalanan tak membosankan sebab terlihat hamparan luas tanah peternakan yang sedap dipandang. Kemudian, mobil kami memasuki hutan yang dipenuhi pohon ekualiptus. Jika beruntung, kadang kita bisa lihat koala yang sedang bertengger untuk makan daunnya.
Jalanan mulai berkelok-kelok dan menukik tajam turun naik. Jalanan seperti ini bisa membuat mual dan pusing. Untunglah Renzo tertidur pulas lagi setelah sarapan roti croissant yang di bawa, sebab ia saya bangunkan lebih awal dari jadwal bangun tidur biasanya.
Sekitar pukul 10.30, kami tiba di Batesman Bay. Namun mobil kami tak berhenti. Suami meneruskan perjalanan untuk membawa kami ke pantai yang berada di luar Batesman Bay, namanya pantai Broulee North Beach. Letaknya 20 kilometer di selatan Batemans Bay. Pantai ini merupakan pantai favorit para turis dan sangat ideal ideal untuk keluarga. Cuaca pun sangat bersahabat, tidak panas dan tidak pula dingin, namun angin cukup kencang. Sebelum bermain di pantai, kami makan siang bersama di area piknik dengan menggelar tikar.
Setelah makan siang Renzo tampak bersemangat sekali, ia segera berlari ke pantai sembari berteriak “I’m ready to catch a wave!. Sesekali ia tunjukkan gaya surfing yang sering ditonton di salah satu program acara ABC Kids favoritnya. Kadang ia juga bermain bola dengan teman-teman sebayanya dan melompat-lompat diatas gelombang air laut dengan tawanya yang membahana.
Hampir dua jam di pantai Broulee North, kami beranjak ke Batesman Bay. Di sini, kami mampir di sebuah taman dekat dengan kapan-kapal yang merapat. Sebelum kembali ke Canberra, kami sempatkan untuk berfoto. Saya dan suami pun niat untuk foto berdua saja dengan menggunakan timer. Ketika timer sudah dinyalakan dan siap beraksi di depan kamera, tiba-tiba Renzo berada di depan kamera sehingga menghalangi kami. Saya dan suami tertawa terbahak-bahak dengan kejahilannya, untung saja hasilnya memuaskan!
Tips:
1. Perhatikan cuaca sebelum berangkat, terutama di negara 4 musim.
2. Sarapan dan makan siang penting, agar anak-anak tak rentan sakit.
3. Pakai sunscreen untuk melindungi kulit dari teriknya sinar matahari Australia yang menyengat.
4. Siapkan kotak P3K.
Selamat Tahun Baru 2012!
Sebelum tahun baru, saya jalan-jalan bersama keluarga ke pantai Broulee North yang letaknya di daerah Batesman Bay, NSW. Cerita perjalanan saya ini, dipublikasikan di website khusus parenting. Namanya momsguideindonesia.com
Yuk, baca cerita saya mengajak Renzo main di Broulee North Beach!
Atau bisa diunduh di:
http://momsguideindonesia.com/summer-breeze-at-broulee-north-beach.html
Summer Breeze at Broulee North Beach
Summer holiday, waktu liburan terpanjang yang selalu ditunggu-tunggu terutama bagi anak-anak. Untuk mengawali liburan kali ini, saya dan suami mengajak Renzo (4 tahun) ke pantai terdekat dari Canberra.Minggu lalu, kami berangkat bersama dengan rombongan teman-teman yang membawa serta keluarga. Kebetulan, hari itu adalah hari Natal sehingga jalanan sangat sepi dan di pantai pun tak ramai.
Saya dan keluarga berangkat dari Canberra pukul 6.30 pagi. Kami berkumpul di Blackall Park terlebih dahulu dan kemudian 6 mobil konvoi beranjak menuju Batesman Bay. Mobil kami berada paling depan sebagai pemandu jalan.
Perjalanan dari Canberra ke Batesman Bay membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Pemandangan kiri dan kanan selama perjalanan tak membosankan sebab terlihat hamparan luas tanah peternakan yang sedap dipandang. Kemudian, mobil kami memasuki hutan yang dipenuhi pohon ekualiptus. Jika beruntung, kadang kita bisa lihat koala yang sedang bertengger untuk makan daunnya.
Jalanan mulai berkelok-kelok dan menukik tajam turun naik. Jalanan seperti ini bisa membuat mual dan pusing. Untunglah Renzo tertidur pulas lagi setelah sarapan roti croissant yang di bawa, sebab ia saya bangunkan lebih awal dari jadwal bangun tidur biasanya.
Sekitar pukul 10.30, kami tiba di Batesman Bay. Namun mobil kami tak berhenti. Suami meneruskan perjalanan untuk membawa kami ke pantai yang berada di luar Batesman Bay, namanya pantai Broulee North Beach. Letaknya 20 kilometer di selatan Batemans Bay. Pantai ini merupakan pantai favorit para turis dan sangat ideal ideal untuk keluarga. Cuaca pun sangat bersahabat, tidak panas dan tidak pula dingin, namun angin cukup kencang. Sebelum bermain di pantai, kami makan siang bersama di area piknik dengan menggelar tikar.
Setelah makan siang Renzo tampak bersemangat sekali, ia segera berlari ke pantai sembari berteriak “I’m ready to catch a wave!. Sesekali ia tunjukkan gaya surfing yang sering ditonton di salah satu program acara ABC Kids favoritnya. Kadang ia juga bermain bola dengan teman-teman sebayanya dan melompat-lompat diatas gelombang air laut dengan tawanya yang membahana.
Hampir dua jam di pantai Broulee North, kami beranjak ke Batesman Bay. Di sini, kami mampir di sebuah taman dekat dengan kapan-kapal yang merapat. Sebelum kembali ke Canberra, kami sempatkan untuk berfoto. Saya dan suami pun niat untuk foto berdua saja dengan menggunakan timer. Ketika timer sudah dinyalakan dan siap beraksi di depan kamera, tiba-tiba Renzo berada di depan kamera sehingga menghalangi kami. Saya dan suami tertawa terbahak-bahak dengan kejahilannya, untung saja hasilnya memuaskan!
Tips:
1. Perhatikan cuaca sebelum berangkat, terutama di negara 4 musim.
2. Sarapan dan makan siang penting, agar anak-anak tak rentan sakit.
3. Pakai sunscreen untuk melindungi kulit dari teriknya sinar matahari Australia yang menyengat.
4. Siapkan kotak P3K.
Labels:
published
Wednesday, November 9, 2011
Artikel "Main Salju" - Majalah Parenting Indonesia
Alhamdulillah!
Berikut ini artikel perjalanan terbaru saya di majalah Parenting Indonesia edisi November 2011. Redaksi majalah Parenting minta untuk dibuatkan artikel perjalanan menjelang liburan anak-anak akhir tahun. Thanks berat tuk redaktur eksekutifnya, mba Dita.. :)
Teks: De Veha
Foto: Riko Abrar (suami)
Nantikan artikel perjalanan saya di majalah Parenting Indonesia selanjutnya.. ;)
Berikut ini artikel perjalanan terbaru saya di majalah Parenting Indonesia edisi November 2011. Redaksi majalah Parenting minta untuk dibuatkan artikel perjalanan menjelang liburan anak-anak akhir tahun. Thanks berat tuk redaktur eksekutifnya, mba Dita.. :)
Teks: De Veha
Foto: Riko Abrar (suami)
Nantikan artikel perjalanan saya di majalah Parenting Indonesia selanjutnya.. ;)
Labels:
published
Tuesday, August 2, 2011
BESTSELLER book!
Alhamdulillah!
My anthology book "Berjuanglah, Bunda Tidak Sendiri" is one of the BESTSELLING and RECOMMENDED book in book stores.
Plus, this book has been selected and recommended by Ayahbunda Magazine (Edition no.14, July 2011) and Mother & Baby magazine (August 2011 Edition)
Labels:
published
Tuesday, July 5, 2011
100 days and I'll be missing you..
Dear Papa,
Tak terasa sudah 100 hari sejak Papa meninggalkan kami
Iti harus terbiasa bahwa Papa tak lagi bersama
Sejujurnya, sungguh sangat merindukan Papa ada disekitar
Ketika Iti harus mengakui semakin sedikit waktu untuk bersama Papa setelah menikah
Ketika Iti tak sempat bertemu, bahkan menemani saat detik-detik kepergian Papa untuk selamanya dan tak ada kata selamat tinggal
Iti masih dapat mengunjungi Papa walau hanya bertemu dengan sebuah nisan
Papa pun berbalas untuk datang melalui mimpi
Papa hanya diam dan tersenyum
Tanda lega terlepas dari sakitnya
Tanda bahagia dunia akhirat, insyaAllah..
100 hari sejak Papa meninggalkan kami
Hari-hari yang tidak mudah untuk di lewati
Walaupun tangis masih sering menemani sebab rindu ini menggema
Namun ketidakmampuan untuk berpelukan erat terganti dengan sejuta cinta
Ketidakmampuan untuk menciumnya hangat, terganti dengan sejuta doa-doa dalam setiap hembusan nafas
Sebab Iti harus kuat untuk ratusan hari-hari berikutnya dengan iringan lafaz bismillah..
With love,
Iti
Thursday, June 23, 2011
Buku 3 - Antologi "Balita Hebat"
Alhamdulillah...
Bulan lalu (Mei 2011) baru saja melahirkan buku ke-2. Kemudian saya melahirkan lagi buku ke-3 (antologi kedua), antologi kasih "Balita Hebat" bersama penulis senior Pipiet Senja, dkk!
Buku ini berisi kisah seputar balita yang mengharu-biru.
Penerbit: Jendela (Zikrul Hakim), Juni 2011.
Tulisan saya di nomor 12, berjudul "Balita Multibahasa".. :)
Komposisi Isi
Bab Satu: Kisah Inspirasi
1.Amanah Cinta (Diannafi)
2.Janji Seorang Balita (Pipiet Senja)
3.Anakku Hidup dan Matiku (Nenden Salwa)
4.Berkat Kisah Teladan (Nashita Zayn)
5.Calon Penghuni Surga (Eric Shandy)
6.Ivon Jagoan (Endang Ssn)
7.Pemberani Penuh Empati (Jazimah al-Muhyi)
8.Doa Fikri Kecil (Yooke Tjuparmah)
9.Pengamat Label Halal (Yudith Fabiola)
10.Peri Kecilku (Ayesha Darmawan)
11.Aku Ingin Lancar Bicara (Tantri Pranashita)
12.Balita Multibahasa (De Veha)
13.Merasa Tidak Diperhatikan (Trimanto)
14.Bintang Kecil Sendiri (Lintang Kinanti)
15.Ada Malaikat Penjaga (Dila Saktika)
16.Aku Gemar Membaca (Dewi Muliyawan)
17.Si Kecil Menjadi Guru (Ika Maya Susanti)
18.Rekan Bunda di Rumah (Ratna Dwi Kumala)
19.Dongeng Untuk Adik (Retno Winar
20.Diary With My Daughters: I Love Card & Apologize (Tias Tatanka)
21.Nyanyian Huzai (Muthiah Al Hasany)
22.Ambilkan Selimut Kakak (Leyla Imtichanah)
Bab Dua: Kiat-Kiat Merawat Balita
1.Tip Pijat Bayi (Noviana Wahyu Widayanti)
2.Makanan Bunda Sehat dan Bergizi (Noviana Wahyu Widayanti)
3.9 Kesalahan Dalam Merawat Balita (Sumer Detikhealt)
4.10 Penyakit Balita (Sumber Detikhealth)
Ini cerita saya tentang menghadapi polah tingkah Renzo:
BALITA MULTIBAHASA
Saya bahagia ketika pertama kali mendengar suara tangis kencangnya dan kemudian memeluknya dalam dekapan dada. Air mata haru pun tak dapat ditahan. Melahirkan pangeran kecil saya, Renzo, merupakan pengalaman yang sungguh luar biasa.
Tahun Pertama
Setelah menikah, saya ikut suami untuk menetap di ibukota Australia, Canberra. Ketika saya sampai di Canberra, saya telah dinyatakan hamil oleh dokter. Sembilan bulan mengandung sangatlah menakjubkan. Sampai pada kelahiran pangeran kecil kami. Bahagia, tentu saja. Perjalanan dan pengalaman kami pun bertambah dengan adanya si kecil.
Tiga bulan pertama setelah kelahiran Renzo, saya masih banyak memiliki waktu luang. Saya tidak terlalu kerepotan dalam mengurus Renzo, sebab saya dibantu oleh Mama yang sengaja datang dari Jakarta. Namun, setelah tiga bulan berlalu dan mama harus kembali ke Jakarta. Saya harus mengurus Renzo sendiri sehari-harinya, disamping suami yang bekerja.
Tak lama Mama berangkat kembali ke Jakarta, saya dikejutkan dengan kepandaian Renzo diusianya yang baru tiga bulan. Ia sudah dapat tengkurap sendiri. Makin bertambah bulan, Ia pandai merangkak, mengeluarkan suara dan bunyi-bunyian. Gigi pertamanya pun tumbuh dan disusul satu demi satu gigi lainnya. Yang paling mengharukan untuk saya adalah ketika dirinya pertama kali mengucapkan sebuah kata, yaitu “Mama”. Semua kepandaian dan grafik pertumbuhannya ini selalu saya amati dan catat sebagai hari penting untuk diingat. Nyaris belum pernah saya lewati masa pertumbuhannya sebab saya sendiri yang mengurus Renzo sehari-harinya. Tidak heran saya mengetahui dan menyaksikan benar polah tingkahnya.
Namun, disaat saya senang melihat pertama kalinya Renzo melangkah. Tiba-tiba saja saya terkena chicken pox alias cacar air. Sungguh saya sangat kesal mendengar pernyataan dokter. Saya diharuskan tidak dekat-dekat dengan Renzo untuk sementara dalam beberapa minggu. Oh! Rasanya saya mau marah!
Sepulang dari dokter, saya tertegun melihat Renzo yang terus memanggil-manggil saya “ndaaa..ndaa..”. Tetapi apa daya saya tak dapat dekat dengannya, memeluknya, bahkan menciumnya. Saya tambah sedih ketika melihatnya nangis karena tak dapat tidur dengan saya. Saya dan Renzo hanya berkomunikasi melalui pintu kamar atau bahkan jendela balkon.
Selama saya terkena cacar air, Renzo semakin susah untuk tidur terutama malam hari. Sampai ibu mertua dan suami yang bergantian cuti kerja, kewalahan menghadapi tingkahnya. Namun yang lebih menyedihkan lagi, saya melewati masa-masa Renzo belajar berjalan. Jujur, saya menangis selama masa karantina itu. Sebab saya sudah tidak tahan lagi untuk segera memeluknya dan menimangnya kembali. Sepuluh hari terlalu lama bagi saya dan Renzo. Maka keesokan harinya saya dan suami memutuskan agar saya dapat dekat lagi dengan Renzo. Dokter pun setuju sebab beliau berkata bahwa Renzo mungkin sudah terekspos. Ada kemungkinan Renzo tertular. Benar, tiga hari kemudian Renzo terkena cacar air juga.
Terrible Two
Semakin bertambah usianya, semakin meningkat ujian yang saya hadapi sebagai orang tuanya. Terutama saya yang paling banyak berinteraksi dengan Renzo di rumah dan menghadapi ulah serangan “terrible two”.
Awalnya saya bertanya pada diri sendiri apakah mampu mengurus anak sendiri, ketika suami bekerja. Jujur, memang sulit. Tetapi ketika keihklasan dan cinta sebagai orang tua dalam mengurus dan mendidik anak menjadi andil utama, maka saya yakin akan lebih mudah.
Tak dipungkiri kadang sekali-sekali saya berkhayal memiliki pembantu rumah tangga seperti sebelum menikah. Semua tinggal perintah. Semua dilayani. Nikmatnya! Apalagi kalau sudah menikah, lebih nikmat lagi. Masakan sudah tersedia, anak-anak ada yang menjaga, rumah rapi setiap hari. Tetapi, jangan dikira bisa saya terapkan disini. Disamping mempekerjakan pegawai biayanya sangat mahal, Australia adalah negara yang mandiri. Alhamdulillah, kebiasaan gaya hidup sendiri. Dimulai dari belanja mingguan, mengurus anak dan suami sampai pekerjaan saya sebagai penulis.
Capek. Sudah pasti. Apalagi ditambah dengan menghadapi tingkah laku Renzo di usia dua tahun. Ia mulai tak mendengarkan perintah. Sesekali Ia juga mulai merengek kalau saya tolak keinginannya. Kesabaran saya semakin diuji. Teriakan marah pun sering keluar dari mulut saya.
Kalau saya tak dapat menahan kesabaran, paling saya hanya mengomel saja. Tak ada sedikit pun di pikiran untuk melukai fisiknya. Namun pernah suatu ketika, saya sedang pusing dan letih sekali. Setelah memasak dan kemudian menyuapinya, dengan sengaja Ia menumpahkan piring beserta isinya. Spontan saya marah dan langsung memukul tangannya cukup keras. Memerah! Ia menangis sembari berkata “sorry bunda” dengan memelas. Spontan saya ucap “astagfirullahaladziim” dan segera memeluk serta meminta maaf pada Renzo. Saya pun ikut menangis. Ini kejadian yang paling saya sesali dan berjanji tak akan pernah lagi saya melukai fisiknya, apalagi hatinya. Sejak itu, jika Renzo melakukan kesalahan. Hukuman yang berhasil saya terapkan padanya adalah “time out”, dengan mengurungnya di kamar selama paling lama tiga menit. Satu-satunya hukuman paling ampuh tanpa menyakiti hati dan fisiknya.
Anak Multibahasa
Memasuki usia ke tiga, Renzo tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ia tidak lagi bertingkah mengesalkan. Ia lebih bijak dan cukup bisa diberitahu apa yang benar dan salah. Renzo juga sudah lancar berbicara, mengingat Ia pandai berbicara saat usia satu setengah tahun.
Mendidik anak multibahasa seperti Renzo tidak mudah. Sebagai orang tuanya yang berlatar belakang budaya Indonesia yang kental. Pasti saya dan suami menginginkan dirinya untuk tetap pandai berbicara bahasa Indonesia walaupun menetap di negeri asing. Mengapa demikian? Sebab saya menyayangkan anak-anak yang lahir dari peranakan Indonesia atau pernikahan campur, tidak mengenal bahasa ibu, bahasa Indonesia. Pada umumnya mereka lebih lancar berbahasa Inggris. Bahkan yang lebih disayangkan lagi, kadang diantara anak-anak mereka malu dan takut kalau diajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Alhamdulillah, Renzo masih fasih berbahasa Indonesia hingga kini.
Saya dan suami menerapkan dua bahasa di rumah, Inggris dan Indonesia. Kami berdua pernah mencoba untuk menggunakan dua bahasa ketika berbicara pada Renzo. Hasilnya, Renzo menjadi kebingungan dan lebih banyak menggunakan satu kalimat dalam dua bahasa. Misalnya, Ia berkata “Renzo mau main ball”. Sehingga menurut kami, Ia belum mampu berbicara dengan bahasa yang baik dan benar.
Pada akhirnya, saya dan suami sepakat untuk memilih mana bahasa yang kami gunakan ketika berbicara pada Renzo. Suami menggunakan bahasa Inggris saja, dan saya menggunakan bahasa Indonesia saja. Ternyata penerapan ini lebih berhasil ketimbang sebelumnya.
Semakin bertambah usia, Renzo sudah cukup mampu menggunakan kedua bahasa tersebut dengan baik dan benar. Ia sudah bisa berbicara dengan menggunakan kalimat dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia dengan penuh. Bahkan kalau saya perhatikan ketika dirinya bermain bersama teman-teman sebayanya yang menggunakan bahasa Inggris sehari-hari, Renzo sudah bisa mengimbangi dengan ikut berbicara menggunakan bahasa Inggris. Begitu pula ketika diajak berbicara dengan bahasa Indonesia.
Penerapan lainnya kami lakukan dengan memasukkannya ke dalam lingkungan playgroup yang berbahasa bilingual (Inggris-Indonesia). Dengan demikian, sebagai anak multibahasa Renzo mampu berbicara dua bahasa dengan baik dan benar.
Kadang pun gemas sekali ketika tiba-tiba dirinya berkata dalam bahasa Inggris, tanpa pernah kami ajarkan. Mungkin Ia dapat dari tontonan channel favoritnya, ABC Kids. Seperti dalam dialog saya dengannya berikut ini:
Renzo: "bunda masak apa sih?"
Bunda: "bunda masak sup"
Renzo: "pake chicken?"
Bunda: "iya, pake chicken. Trus ada fish tofu juga.."
Renzo: "trus apalagi?"
Bunda: "pake kentang"
Renzo: "trus?"
Bunda: "buncis, wortel, daun bawang.."
Tiba-tiba dengan riang dia langsung berkata, "Wow, awesome!" Langsung saya tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat “wow, awesome!”
***
Benar kata Mama saya, mengurus anak itu susah-susah gampang. Sebagai orang tua kita harus lebih bijak dan kreatif menghadapi tingkah laku anak. Kesal, lelah, marah, kan terhapus dengan cinta yang besar untuk Renzo. Cinta bunda yang diabadikan dalam bentuk puisi berikut ini:
Bunda masih ingat saat dirimu masih dalam tubuhku
Irama gerakan, tendangan kuat, dan sikutannya membuat perutku berubah-ubah bentuk hingga menggelitik kegelian.
Aneh, namun sempurna..Subhanallah!
***
1 Syawal 1428H [Sabtu, 13 Oktober 2007], pukul 17:35 waktu Canberra-Australia
Catatan sejarah yang tak pernah ku lupa
Selamat datang cinta!
Kuberi nama dia, Muhammad Renzo Abrar
Dunia terasa begitu indah, saat dirinya hadir menyambut Syawal dengan takbir..
17 jam perjuangan Bunda yang melelahkan dan sakit luar biasa, seakan terhapus begitu saja..
Allahuakbar..allahuakbar..allahuakbar!
Renzo sayangku..
Tak terasa kini tiga tahun sudah usiamu
Semakin bertambah kepandaian dan polah tingkahmu
Dimulai dari pertama kali kau ucap kata “nda..” untuk memanggilku
Atau ketika kau mulai berteriak kencang, hanya karena keinginanmu kuabaikan
Kadang kau buatku senang hingga menangis haru, bahkan kadang buatku kesal hingga menangis sendu
Tetapi Nak, tak pernah berubah cinta dan sayang Bunda..
Renzo sayang..
Kau masih ingin kutimang, apalagi saat dirimu berkata “Bunda, nenong..”
Kau masih ingin tidur hanya ditemani olehku, bahkan kau meminta agar kita berpegangan tangan erat sampai kau tak sadarkan diri tertidur pulas
Tak apa begitu sayang, tak penting usiamu karena kau bayiku
Ayah dan Bunda bersyukur kau tumbuh sehat, lincah dan kuat
Semoga di hari-hari mendatang kan menjadi berkah bagimu
Ayah dan Bunda kan terus berikan doa di setiap hembusan nafas
Berharap dengan izin-Nya, kau kan jadi pengikut Nabi Muhammad SAW yang berkepribadian kuat dan mandiri, sesuai namamu
Kau kan jadi lelaki sholeh yang mencintai dan menyebut nama-Nya di sepanjang waktu
Labels:
published
Monday, May 30, 2011
Calon novel yang lama terbengkalai!
Masih ku ingat saat kita menyanyikan lagu cinta
Masih ku ingat ketika kita sering bersama
Sepertinya tak pernah ku lupa semua
Namun saat dirinya berada diantara kita
Aku tidak marah, sebab kau bukan milikku
Aku tidak menangis, sebab kau terlihat bahagia
Dan masih ku ingat jelas wajahmu saat mengatakan ingin menikahinya
Cemburu, itu pasti
Luka, itu resiko
Tahun berganti
Cinta telah terbagi, begitu juga hati
Tapi selingkuh, aku tak berani!
Andai saja kau tau
Sesungguhnya cinta pernah ada
Rindu pun masih menyala
...petikan calon buku (novel) selanjutnya... :)
Labels:
puisi
Sunday, May 8, 2011
Buku 2 - Antologi "Berjuanglah Bunda Tidak Sendiri"
Buku kedua saya, namun buku antologi pertama yang ditulis bareng Naqiyyah Syam, Qonita Musa, dkk. Baca cerita saya dalam bab Ruang Bersalin Satu, dengan judul TUJUHBELAS JAM PERJUANGAN.
Dapatkan segera di toko buku seluruh Indonesia!
Terbit: 11 May 2011
Penerbit: Elex Media
SINOPSIS
Melahirkan di mana saja; di desa, di kota, bahkan di luar negeri, dengan bidan atau dengan dokter spesialis, selalu mendatangkan rasa yang sama. Meski sedikit, rasa sakit itu pasti ada.
Yang kelihatan mudah pun, melahirkan dengan teknik epidural misalnya, akan membawa rasa sakit ketika menyuntikkannya pada tulang belakang walau kadarnya hanya setitik. Faktanya, dengan berbagai teknik yang dilakukan oleh paramedis atau ibu hamil itu sendiri, rasa sakit bisa diminimalisasi. Nah, Bunda bisa segera menemukan jawaban dengan membaca curhat para Bunda di buku ini.
Dalam buku ini, Bunda akan menemui beragam fakta yang akan membantu Bunda untuk sigap mengenali dan mempersiapkan kelahiran yang terbaik. Bunda bisa segera mengonsultasikan segala kekhawatiran Bunda dengan bidan atau dokter yang menangani kehamilan Bunda.
Cara melahirkan apapun yang Bunda pilih, semua istimewa! Buku ini terbagi atas empat ruang bersalin. Masing-masing ruang merepresentasikan kelahiran anak yang keberapa. Belum tentu melahirkan anak yang pertama lebih sakit daripada kelahiran anak yang kedua, dan seterusnya.
Spesial, pada kelahiran anak pertama, kami mengumpulkan banyak cerita karena pada umumnya, seorang Bunda akan mengalami kecemasan yang lebih tinggi pada kehamilannya yang pertama. Bunda bisa mengambil manfaat dari cerita-cerita yang dituliskan. Plus dilengkapi dengan tip-tip seputar melahirkan.
TUJUHBELAS JAM PERJUANGAN
Dua minggu setelah menikah, saya langsung ditinggal sang suami ke Australia. Ia memang sudah puluhan tahun menetap di ibukota Australia, Canberra, bersama dengan kedua orang tuanya. Ia tidak bisa cuti lama karena pekerjaan dan kuliah masternya. Kami pun rela harus berpisah jarak dan waktu selama hampir 4 bulan. Selama waktu tersebut, saya sibuk melakukan persiapan pengurusan spouse visa untuk menetap disana bersamanya. Alhamdulillah, pengurusan tersebut selesai hanya sebulan saja.
Setelah sebulan pertama, rasa rindu makin memuncak. Apalagi kami pengantin baru yang masih hangat-hangatnya. Walaupun saya berasal dari keluarga besar dan memiliki 4 saudara perempuan kandung. Sedikit rasa kesepian tak berada di samping suami tetap ada. Tidak heran, saya ingin segera memiliki keturunan.
Saat suami datang ke Jakarta untuk menjemput, saya bahagia sekali. Beberapa hari kemudian kami berdua dan keluarga besar saya mengadakan tour de Java. Tujuan perjalanan kami ke Jogjakarta & Purwokerto, kebetulan kami ingin mengunjungi mertuanya kakak saya. Capek tapi senang. Namun yang paling berkesan adalah hasil dari perjalanan tersebut. Mengapa? Saya hamil!
Masa Kehamilan
Hari keberangkatan diliputi dua perasaan. Senang karena saya hamil, sedih karena saya meninggalkan keluarga besar. Ini pertama kalinya saya akan jauh dari keluarga. Namun, perasaan dilema saya abaikan.
Bulan-bulan pertama menetap di negeri orang, cukup sulit untuk saya. Perlahan saya belajar untuk beradaptasi dengan kehidupan dan kebiasaan orang Australia. Apalagi dalam keadaan hamil, pastilah emosi kadang lebih tinggi tingkatnya daripada logika. Selama hamil saya banyak marah dengan suami. Selain faktor hormon hamil, mungkin juga karena kami baru membina rumah tangga bersama. Padahal, tak selamanya suami punya kesalahan. Bahkan kadang Ia hanya memberikan saran. Tetapi saat itu, saya memang amat sensitif. Untung, sang suami mengerti keadaan emosi saya. Nangis, tentu saja. Bahkan hampir setiap hari! Tangisan menjadi teman baik saya, terutama saat saya merasa kesepian di rumah. Sendirian!
Cukup berat bagi saya menghadapi hari demi hari. Suami kerja dan saya belum memiliki teman. Ayah dan Ibu mertua pun bekerja. Namun saya tak mau menjadi bulan-bulanan dalam kesedihan dan terlena dengan tangisan. Saya tak boleh menyerah, apalagi bersedih. Seperti salah satu judul buku favorit saya, La Tahzan! Obatnya selain shalat, saya telepon Mama ke Jakarta. Dalam sehari bisa lima kali.
Saya bersyukur kehamilan saya sehat. Saya alami mual-mual dan muntah pun pada saat trisemester pertama saja. Sebagaimana wanita hamil lainnya. Di Australia, USG dilakukan hanya dua kali sekitar minggu ke-12 dan minggu ke-20 untuk kehamilan sehat. Pada usia kandungan minggu ke-20, kami mengecek jenis kelamin janin. Saat alat USG menari-nari di atas perut saya, janin yang berada dalam kandungan menendang-nendang dan terdengar jelas nada detak jantungnya. Air mata kami berdua pun tak sengaja keluar karena terharu. Tak lama kemudian, Midwife (suster) memberitahu dan memperlihatkan layar monitor USG bahwa anak kami berjenis kelamin laki-laki. Alhamdulillah!
Ngidam? Pasti. Sepertinya semua makanan Indonesia saya idam-idamkan selama hamil. Yang menjadi kendala, kalau hasrat ngidamnya terlalu spesifik dan tidak kesampaian. Misalnya, saya ngidam nasi bungkus Padang ala restoran Sederhana, atau mie ayam Menteng, atau makanan khas Palembang tekwan buatan Mama. Waduh! Walaupun langka menemukan jajanan masakan Indonesia, untungnya saya masih bisa mengatasi ngidam tersebut.
Sehari Sebelum Melahirkan
Berkomunikasi dengan janin dalam kandungan, selalu saya lakukan. Bahkan ketika saya memintanya sabar menunggu datuk dan neneknya datang dahulu dari Jakarta. Dan benar, Ia pun belum mau keluar dari perut saya.
Bahagia. Papa dan Mama akhirnya bisa datang untuk berkunjung dan ikut menemani saya melahirkan nanti. Seminggu Papa dan Mama di Canberra, sang janin masih betah dalam kandungan. Tanda-tanda kontraksi palsu juga belum ada. Padahal lusa adalah due date-nya, tepat dimana seluruh orang muslim merayakan hari kemenangan. Ya, saya diperkirakan akan melahirkan pada saat hari raya Idul Fitri.
Keesokan harinya, 12 Oktober, kebetulan suami sudah mengambil cuti kerja. Kami berdua mengajak Papa dan Mama jalan-jalan untuk melihat keindahan festival bunga Floriade. Festival ini berlangsung saat musim semi setiap tahun, sekitar bulan September – Oktober. Tidak afdol rasanya kalau belum mengajak Papa dan Mama ke Floriade. Saya takut tidak sempat, apalagi bila setelah melahirkan nanti. Maka saya pun memaksa untuk menemani Papa dan Mama. Dengan berjalan membawa perut besar dalam keadaan hamil tua, saya semangat sekali untuk berjalan kaki. Katanya toh, banyak yang bilang kalau jalan kaki sehat untuk ibu hamil terutama agar persalinannya lancar.
Tiga jam berkeliling dengan berjalan kaki dan mengitari ribuan meter luasnya, keletihan tak saya rasakan. Bahkan saya masih asyik berfoto ria dengan Papa dan Mama seraya memamerkan perut besar. Kami pun beranjak pulang ketika matahari sudah enggan untuk menampakkan dirinya.
Sampai dirumah, saya langsung merebahkan diri di kasur sebentar. Pegalnya kaki mulai terasa sampai ke pinggang. Sesekali Mama memijit-mijit kaki sembari bolak-balik ke dapur melihat masakannya. Malam itu beliau sedang memasak opor ayam untuk lebaran esok hari. Kalau di Jakarta, malam takbiran seperti ini mungkin sudah ramai sekali dengan irama bedug dan kumandang takbir. Tapi kalau di Australia, kami cukup mendengarkan hanya dari radio Ramadhan Australia. Kemudian, saya lanjutkan dengan menyetrika baju dan mukenah yang akan dipakai untuk shalat Ied. Saya juga masih sempat beres-beres rumah bersama suami.
Pukul 10 malam, saya menelepon kakak-kakak dan adik-adik di Jakarta. Saat itu, keluarga besar Mama sedang berkumpul bersama. Setengah jam ditelepon dipenuhi dengan obrolan dan tawa harus saya hentikan karena saya kebelet untuk buang air kecil.
Tiba-tiba saya melihat noda berwarna merah. Saya sama sekali tidak panik karena seperti yang sudah dijelaskan pada waktu mengikuti kelas hamil, bahwa flek tersebut merupakan tanda akan melahirkan. Saya memberitahu suami dan Mama. Mama berkata, “Sebentar lagi tuh, Ti.” Lalu saya kembali merebahkan diri. Kontraksi masih belum ada.
Sejam kemudian, saya buang air kecil lagi. Kali ini spontan saya teriak memanggil-manggil suami dan Mama. Papa pun ikut terkejut dan berlari ke arah kamar mandi. Mereka bertiga bertanya bersaut-sautan, “kenapa?...kenapa?”. Bukan lagi flek merah yang terlihat, tetapi darah merah segar. Saya merasakan darah itu perlahan mengalir sedikit demi sedikit. Saya sangat panik sebab ada rasa takut kalau pendarahan yang terjadi.
Suami segera menelepon rumah sakit dan menceritakan keadaan saya. Saya berusaha untuk menenangkan diri dengan tidur. Tetapi tetap saja tidak bisa. Sejam kemudian, perut keram mulai saya rasakan. Apakah ini yang dinamakan kontraksi? Kelamaan perut semakin mules. Saya menghitung sekitar dua puluh menit sekali interval-nya. Dalam dua jam, menjadi lima menit sekali. Mama sempat membuatkan minuman tradisional orang dulu, berupa campuran madu dan telur untuk saya minum.
Saya semakin ketakutan karena pendarahan itu semakin banyak. Suami pun kelihatan kebingungan karena ini pertama kalinya dia menghadapi orang yang akan melahirkan. Akhirnya midwife menyarankan agar kami segera kerumah sakit. Saya ditemani oleh Mama dan suami, sedangkan Papa menunggu dirumah.
Detik-detik Perjuangan Melahirkan
Tepat pukul dua pagi, tidak sampai sepuluh menit kami sampai di gedung bagian maternity rumah sakit. Empat ruang bersalin kosong semua. Senangnya saya dapat ruang bersalin VIP dengan kamar mandi di dalam, sehingga lebih memberikan saya kenyamanan dan privasi.
Baru merebahkan badan di atas kasur, dua Midwife yang jaga malam itu memasangkan alat-alat ke bagian perut dan seputar pinggang. Alat-alat tersebut termasuk alat deteksi jantung si janin dan diagram kontraksi. Lalu, midwife memriksa bagian dalam dan ternyata saya baru bukaan satu. Prosesnya masih lama. Tetapi midwife tidak menyuruh saya pulang karena masih bukaan satu. Mungkin kalau di Jakarta, saya sudah diharuskan pulang dulu.
Sesekali saya masih bisa tertawa mendengar candaan suami yang mencoba menghindari kepanikannya. Namun kelamaan saya rasakan mules di perut semakin sering dan teratur. Saya coba menahan dengan mengatur nafas dan menyebut asma Allah SWT.
Azan subuh tiba-tiba berkumandang dari handphone saya. Mama segera menjalankan shalat dan kemudian bergantian dengan suami. Saya masih sibuk konsentrasi menghadapi kontraksi. Namun, saya sedikit terganggu dengan suara diluar kamar. Sepertinya ada beberapa wanita lain yang baru datang dan akan melahirkan. Ternyata benar, suami bertanya ke midwife ruangan yang lainnya sudah penuh.
Saya sadar, saat saya terbaring di delivery room ini adalah hari raya Idul Fitri. Sempat saya menitikkan air mata dan berdoa dalam hati memohon pada-Nya kemudahan untuk melahirkan anak pertama saya.
Setelah subuh, Ibu dan Bapak mertua datang berkunjung melihat keadaan saya. Mereka sudah rapi dengan membawa perlengkapan shalat Ied di KBRI Canberra. Suami, Papa dan Mama pun tak jadi berangkat untuk shalat Ied. Mereka tetap menunggu saya di kamar bersalin.
Dua jam kemudian, dokter kandungan datang. Dr. Rebecca memeriksa bagian dalam lagi. Duh! Ini yang paling saya tidak suka kalau diperiksa bagian dalam. Rasanya seluruh urat dan otot di tubuh tegang semua. Sakit! Dr. Rebecca mengatakan kalau saya sudah bukaan empat. Sebentar lagi, pikir saya.
Lalu, air ketuban saya dipecahkan. Dr. Rebecca dibantu oleh midwife membersihkan kotoran yang keluar beserta air ketuban tersebut. Alhamdulillah saya masih bisa menahan kontraksi yang sakit luar biasa. Nauudzubillah.. Saya pun tak berteriak-teriak menahan sakit seperti para wanita dikamar lainnya. Dengan jelas saya dengar mereka berteriak-teriak, bahkan berkata yang tak seharusnya patut didengar. Sampai-sampai, Dr. Rebecca bertanya “Why don’t u scream? You can scream if you want to, Iti”. Saya hanya tertawa dan memohon padanya “Doc, just give me an epidural right now please!”. Sayang sekali, epidural belum bisa diberikan karena belum dibutuhkan dan belum melewati sepuluh jam masa waktu labour (persalinan). Epidural diberikan hanya jika kondisi sang ibu dan janin dalam keadaan yang amat mendesak, terutama sudah melemah.
Ketakutan mulai makin mendatangi saya. Sakit yang luar biasa tersebut membuat saya teringat dosa pada orang tua, terutama pada Mama. Berkali-kali saya minta maaf sama Mama dengan air mata yang berlinang. Suami pun ikut menitikkan air mata. Mulut saya tak henti-henti berkomat kamit membaca doa-doa.
Dr. Rebecca memberikan suntik hormon untuk mempercepat kontraksi. Ini disebabkan karena pembukaannya terlalu lambat. Sementara saya dan janin yang berada dalam kandungan sudah keletihan. Namun suntikan itu tidak berpengaruh.
Sekitar pukul 1 siang, Dr. Rebecca datang beserta seniornya, Dr. Armellin. Beliau berdua mendiskusikan tindakan yang terbaik untuk saya. Dilihat dari grafik, deteksi jantung janin sudah turun naik. Beliau harus segera mengambil tindakan. Dr. Armellin memberikan alternatif untuk saya. Beliau akan memberikan epidural guna menahan kontraksi. Dengan harapan bukaan akan lebih cepat membesar hingga fully dilated. Ah, kenapa tidak dari tadi saja para dokter ini memberikan epidural untuk saya? Saya sudah tidak tahan lagi. Kalau setelah diberikan epidural bukaan belum juga memberikan kemajuan, maka tindakan selanjutnya operasi Caesar.
Epidural, please!
Caesar?! Mendengar kata Caesar saja jantung saya mendadak terbelah dua! Semakin takut kalau saja harus dioperasi. Tetapi ketika saya memikirkan janin, anak pertama kami, maka apapun akan saya lakukan demi keselamatannya. Tetap, saya memohon pada Allah SWT agar saya bisa melahirkan secara normal. Akhirnya kami memilih untuk diberikan epidural terlebih dahulu.
Saya sampai tak habis pikir, hebat sekali wanita yang bisa menahan sakit menjelang melahirkan. Mama dan ibu mertua salah satunya termasuk wanita yang hebat! Saya sendiri beberapa kali mengeluh sakit. Sepertinya kekuatan saya mulai menipis akibat amat sangat kelelahan. Mau mati rasanya!
Kami menunggu dokter anastesi yang akan memberikan epidural untuk saya. Sambil menunggu, suami dan Mama memegang erat kedua tangan saya. Sedangkan Papa berdoa disudut ruangan.
Ketika dokter anestesi beserta dua timnya datang, saya disuruh duduk membelakangi beliau. Berkali-kali saya bertanya dahulu pada dokternya, “Is it hurt? Are you sure I am gonna be okay after you put an epidural?” Dokter meyakinkan diri saya.
Saya duduk tegak di atas kasur. Papa langsung keluar dari ruang bersalin dan Mama berdiri di dekat pintu sembari mengintip dari horden. Sedangkan suami memeluk saya. Beberapa detik kemudian, selang kecil epidural pelan-pelan masuk dalam tulang belakang saya. Alhamdulillah tidak sakit. Saya sempat menoleh ke arah Mama. Beliau pun menangis! Lalu, tubuh saya mati rasa. Pinggang sampai kaki tidak dapat saya rasakan, apalagi menggerakkannya. Saya pun tertidur pulas. Seperti yang dikatakan dokter, bahwa saya akan tidur selama 3 jam dan Dr. Rebecca akan memeriksa kembali bukaannya.
Diantara Dua Pilihan
Tiga jam tertidur membuat tenaga saya kembali pulih. Semangat kembali meningkat. Pukul 16.30 saya diperiksa kembali oleh Dr. Rebecca. Puji bagi Allah SWT, saya memasuki tahap fully dilated! Spontan Dr. Rebecca berkata dengan riang, “I can see the baby’s hair”. Suami ikut melihat dan Ia tak dapat menahan tangis haru.
Dr. Rebecca beserta seorang midwife akan membantu persalinan. Dikarenakan saya tak dapat merasakan kontraksi akibat epidural, maka beliau memberikan aba-aba kapan saya harus mulai nge-push. Sekali push, dua kali push, janin tidak keluar. Setelah diperiksa, ternyata posisi kepala sang bayi menghadap ke langit-langit. Sebaiknya posisi kepala menghadap ke bawah. Posisi ini bukanlah sungsang atau terlilit oleh tali pusar. Dalam istilah kedokteran disebut posisi posterior.
Mengetahui posisinya seperti itu, saya berkata “Aduh nak, pasti ini karena bunda kebanyakan duduk leyeh-leyeh di lazy boy deh. Jadi kamu ikut-ikutan posisinya rebahan liat ke atas”. Suami tertawa mendengar saya berkomentar demikian.
Saya tetap bersikeras tidak mau di Caesar. Saya yakin saya bisa melahirkan normal. Jauh sebelum tiba waktu melahirkan saya niat untuk melahirkan normal. Alhamdulillah para dokter disini begitu sabar. Mereka tidak langsung mengambil tindakan Caesar seenaknya. Bahkan Australia tidak menyarankan tindakan Caesar kecuali bila dalam keadaan terpaksa akibat kebutuhan medis bukan komersil. Maka lagi-lagi saya diberikan dua alternatif, antaranya melahirkan normal dibantu dengan alat forcep seperti sendok untuk memutar kepala bayi atau mengambil tindakan operasi Caesar.
Saya dan suami memilih untuk menggunakan forcep dahulu. Ternyata, tindakan ini harus dilakukan di ruang operasi. Sehingga kalau dengan forcep tidak berhasil, maka langsung Caesar. Ya Allah! Hamba mohon kekuatan dari-Mu dan kemudahan untuk berjuang dijalan-Mu..
Setelah semua siap, saya dipindahkan ke ruang operasi. Papa dan Mama menunggu di luar. Sedangkan suami setia menemani saya dan terus memegang tangan saya. Alat-alat dipersiapkan. Saya ditawarkan kaca untuk melihat prosesnya. Tetapi saya menolak sebab saya takut sekali! Pertama kalinya berada diruang operasi, menurut saya sangat menyeramkan. Horor!
Kedua tangan saya mulai dipenuhi infus dan suntikan bius agar tidak terasa hingga ke dada. Setengah badan saya ditutupi kain putih agar saya tak melihat prosesnya. Dentingan alat-alat kedokteran semakin membuat suasana ruangan operasi bertambah menyeramkan. Aksipun dimulai.
Bayangkan, kira-kita terdapat lima dokter dan tiga perawat dalam ruang operasi. Dr. Rebecca dan Dr. Armellin sebagai dokter kandungan, dokter anak, dokter anastesi, dokter bedah dan para perawat. Saya tak merasakan alat forcep tersebut masuk. Tetapi saya bisa melihat gunting yang dipegang Dr. Armellin dari sela-sela kain putih yang menutupi.
Disini saya semakin ikhlas dan pasrah sama Allah SWT. Tiada daya dan upaya selain pertolongan-Nya. Apapun yang terjadi, maka terjadilah. Tiba saatnya Dr. Armellin memberikan aba-aba untuk mendorong. Dengan mengucap bismillah dan sekuat tenaga saya dorong. Sedikit demi sedikit mungkin kepala bayi diputar dengan forcep saat kontraksi datang. Tak pernah berhenti suami memberikan dukungannya, “Ayo sayang, push...push... sayang pasti bisa!” Dengan keyakinan dan semangat yang tinggi, Dr. Armellin memberikan aba-aba yang terakhir untuk mendorong. Saya tarik nafas dan mencoba mendorong yang lama dan panjang. Sampai pada akhirnya kami yang berada diruangan tersebut mendengar tangisan kencang sang buah hati. Lega!
Tepat pada hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1428 H (13 Oktober 2007), pukul 17.35 waktu Australia, pangeran kecil kami lahir ke bumi dengan sehat dan selamat. Tangisan bahagia kami berdua keluar begitu saja. Saat paling mengharukan ketika tubuh mungilnya yang masih ada darah merah, berada dalam dekapan dada saya. Bahagia luar biasa, bahagia dunia akhirat. Subhannallah...Alhamdulillah…Allahuakbar!
Keletihan dan kesakitan selama tujuh belas jam perjuangan melahirkannya, terbayar oleh kehadirannya. Saya merasa menang. Menang melawan ketakutan, kepanikan dan kesakitan yang menghantui. Bagi kami sekeluarga, ini merupakan puncak kebahagiaan dari semua kebahagiaan yang diberikan oleh-Nya hari itu. Anugerah terindah dalam hidup saya, suami dan keluarga besar pada saat hari lebaran, hari raya kemenangan. Dia yang Maha Penolong paling tertinggi untuk saya hingga dapat melahirkan dengan selamat.
Saya dan suami berharap, kelak pangeran kecil kami ini memahami arti sebuah kehidupan. Kami berdoa agar pangeran kecil kami menjadi golongan Nabi Muhammad SAW yang berkepribadian kuat, mandiri dan selalu berbuat kebajikan di dunia. Sesuai dengan arti namanya yang kami berikan, Muhammad Renzo Abrar.
“Pangeranku, inilah 17 jam saat bunda berjuang melahirkanmu..”
Labels:
published
Subscribe to:
Posts (Atom)









